Tampilkan postingan dengan label apresiasi fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apresiasi fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2009

Kebenaran, Kebatilan dan Persaudaraan dalam cerpen ”Satria Kurusetra” karya Sakti Wibowo

Oleh: Don Alejandro Van Prey De La Vega

Banyak yang menganggap bahwa khayalan sesungguhnya tidak berguna. Orang mengkhayal ketika akan beranjak tidur atau ketika mereka suntuk dan bosan dengan kegiatan di sekelilingnya. Tapi, di tangan sastrawan khayalan menjadi sebuah permata tersendiri. Mereka mampu mengolah sebuah khayalan menjadi sebuah dunia yang bersandingan dengan dunia nyata, dunia realitas. Memang, terkadang (bahkan sering) khayalan tidak masuk akal. Kadang ingin kembali ke masa lalu dengan memutar waktu atau ingin memutar bumi lebih cepat hingga sampai ke masa depan.
Adalah Satria Kurusetra, sebuah cerpen karangan Sakti Wibowo yang membawa kita berlayar menuju masa lalu. Dengan gaya penulisan yang mampu memikat pembaca, dia berusaha menampilkan rangkaian kata puitis dan tak lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari.
“Lelaki itu menatap ke seantero luas padang bernanah. Dadanya mengepundan, tak kuasa lagi menahan sengalan berbaur perih yang menyayat-nyayat”
Paragraf pertama Sakti mampu membuat pembaca untuk terus mengikuti jalan cerita selanjutnya. Sakti mampu menanamkan rasa penasaran melalui rangkaian kata yang ia ciptakan. Cerita dengan latar Bharata Yudha (Pewayangan) ini, pada bagian awal menampilkan tokoh Arjuna yang gelisah, bingung dan bimbang akan pertumpahan darah yang terus terjadi. Di bagian ini, Sakti “menahan” ceritanya dengan memainkan alur yang menarik, jadi “memaksa” pembaca untuk tetap mengamati rangkaian huruf sambil membaca mengkuti jalan cerita. Segala kebimbangan, kegelisahan dan kebingungan yang menyelimuti Arjuna, ia tumpahkan dalam pengaduannya kepada Dzat yang memiliki dan memelihara alam semesta. Di bawah ini kutipan tentang bagaimana gelisah, bimbang dan bingungnya tokoh Arjuna:
“Masih berapa lagi darah yang harus membasah di padang ini Tuhan?”
Lalu monolog dari Arjuna selanjutnya:
”Tidak...aku bukanlah ksatria sejati sebagaimana kata orang-orang. Melainkan hanya segumpal daging kerdil, tak kuasa berdiri oleh tiupan angin beliung yang mementahkan segala rasa. O, bahkan oleh pertalian darah yang terhapus dalam kemelut yang bercabang-cabang”
Asal-muasal segala permasalahan mulai di tampilkan oleh Sakti Wibowo meskipun masih samar-samar. Gaya penulisan Sakti juga tak berubah. Tetap menggunakan rangkaian kata yang tak lazim dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Ia juga mengkombinasikan dengan bahasa Pewayangan (Jawa) yang menampilkan pribadi Sakti sebagai pengarang cerita yang berasal dari Jawa. Sebuah ciri khas tersendiri. Namun, dalam pengkombinasi-an kalimat ini sebenarnya akan membingungkan pembaca. Bagi pembaca yang bukan orang Jawa, tentunya mereka akan kesulitan untuk memahami. Mereka akan menggaruk kepala karena kebingungan dengan kalimatnya. Tapi pelengkap atau penjelas bahasa berada pada akhir cerita sehingga pembaca bisa memahami meski agak repot harus membolak-balik lembaran teks. Berikut kutipan dialog antara Arjuna dan kakaknya, Basukarna, yang mengombinasikan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa:
”Mendekatlah Yayi....’kan kutimang sebelum palagan beradu sedan. Kita menanti detik yang luruh satu per satu dalam putaran waktu. Harum melati bidadari khayangan saat menabur jisim-mu perlaya. Sebagai puncak darma kita menuju kehidupan yang baka. Sungguh akan Kakang ceritakan tentang tangan yang menggeletar, kala sesama di larutkan cinta pada pembelaan dharma setia bawa-laksana. Seperti tirisnya biduk ringkih dilabuh di Begawan Yamuna. Kau akan berkata segalanya benar-benar tak terpilih. Kendati begitu bagi nahkoda tak ada laku lebih sesanti selain menempati lautnya............”
Saat hidup menjadi pilihan, maka harus diperjuangkan ketika telah memilih sebuah pilihan dalam menjalani jalan hidup. Kebenaran dan kebatilan yang melibatkan saudara sekandung, menjadikan segalanya berubah menjadi pilihan yang penuh dengan pertimbangan. Dan terkadang, kebenaran pun semakin samar-samar. Tingkah nepotisme yang dilakukan para orang-orang penting yang menduduki jabatan strategis di negara ini, seringkali membuat kebenaran menjadi samar-samar. Dan kebenaran semakin jauh untuk dapat dilihat.
Arjuna sebagai tokoh Protagonis (baik) harus melawan kakak kandungnya sendiri, Basukarna, yang menjadi tokoh Antagonis (jahat). Arjuna, panglima perang dari negeri Amarta yang puncak pimpinan dipegang oleh Kresna, dan Basukarna panglima perang dari negeri Astinapura yang dipimpin oleh Duryudana.
Arjuna tetap saja bingung dan berusaha mencari jalan keluar dengan meminta pertimbangan dari orang dekatnya, yakni ibunya. Ibunya hanya mampu memberi kata penjelas, namun tidak memberi jawaban atas pertanyaan Arjuna. Arjuna berada dalam keadaan dilematis dimana ia harus memilih salah satu yang tak terpilih. Berikut kutipan dialognya:
”Jika saya boleh memilih, Ibu?”
Wanita dihadapannya itu memintal tangisnya.
”Dia kakangmu, kendati kalian berlainan ayah.”
Dilematisasi yang melanda Arjuna, sang panglima perang dari Amarta, tentunya juga akan berpengaruh terhadap ideologi negara dan juga berpengaruh kondisi psikologis para prajuritnya. Seorang pemimpin harus bisa memberi keputusan tegas terhadap bawahannya yang sedang di landa kebimbangan. Kresna kemudian memberikan alasan kenapa Arjuna harus tetap berdiri membentengi negeri Amarta, yang menjunjung nilai-nilai kebenaran. Berikut kutipan perkataan dari Kresna:
”Tapi ia memihak kepada kekufuran, Kunthi. Basukarna menjadi senapati Astinapura. Kita tahu kezaliman yang telah dilakukan Negeri itu. Prabu Duryudana menyebarkan angkara, menginjak-injak hukum Tuhan. Bahkan lebih dari itu mentahbiskan diri sebagai Tuhan.”
Rasa berat ketika harus berhadapan langsung dengan saudara kandung di medan pertempuran masih menggelayuti hati Arjuna. Dia belum mampu menerima seutuhnya secara lapang dada. Namun, nasehat demi nasehat terus menerus di berikan oleh Prabu Kresna kepada Arjuna.
”Aku paham tentang kegalauanmu. Tapi pahamilah bahwa ini strategi Astinapura untuk melemahkanmu. Melemahkan Amarta, karena semenjak pengangkatanmu menjadi senapati alaga, tak ada perwira mumpuni Astina yang mampu berbuat banyak. Mereka kocar-kacir dan menelan kekalahan dari hari ke hari. Senapati satu per satu terjungkal perlaya di Kurusetra. Menghentikanmu hanya dengan Basukarna, sebab dia kakakmu. Sadarilah itu.”
Berbagai nasehat yang diberikan oleh Kresna kepada Arjuna, belum mampu meneguhkan hati Arjuna. Ia tetap saja bingung. Dan bahkan, dalam keadaan yang bingung tersebut, ia memutuskan untuk mengalah. Sepertinya kebenaran yang dipegang oleh negara Amarta tak mampu dijaga oleh Arjuna dikarenakan harus berhadapan langsung dengan saudara kandungnya sendiri. Meski Arjuna mencoba merasionalisasikan Basukarna dan Basukarna mengakui bahwa apa yang dilakukannya salah, namun Basukarna tetap berdiri membela Astinapura. Hal tersebut diakibatkan karena ketika Basukarna masih bayi dan kelahirannya tidak diinginkan oleh Ibundanya, Kunthi, ia ditolong oleh Duryudana, Raja Astinapura dan merawatnya hingga tumbuh menjadi seorang ksatria yang patut diandalkan serta jabatan yang strategis. Alasan dari Basukarna adalah balas budi. Dan menurutnya, hanya inilah yang mampu ia lakukan untuk membalas kebaikan Duryudana. Berikut kutipannya:
”Aduhai Kakanda...tidakkah sebaiknya kita tak berhadapan saja?”
Lelaki taruna itu tersenyum masygul. ”Mendekatlah, yayi...”
.................................
”Segalanya memang tak terpilih. Pun andaikan Kakang harus menunda menerima tampuk panglima. Hanya menunda waktu saat kita berhadapan di medan laga. Terkecuali mundur dari tugas itu. Sungguhlah itu tak mungkin, yayi...”
”Kenapa?”
Cerita selanjutnya adalah percakapan Arjuna dan Basukarna tentang asal-muasal kenapa Basukarna harus tetap membela Astinapura dan rasionalisasi Arjuna.
..........”Aku mengerti Amarta dipihak yang benar, karena mengusung nilai-nilai Illahi. Namun mengertilah bahwa Kakang tidak bisa ingkar telah banyak berhutang budi terhadap Prabu Duryudana. Saat Kakang harus mengecap derita dibuang ibunda Kunthi, Prabu Duryudana memungut Kakang dari kubangan dan membesarkan. Dia pula yang mengangkat Kakang dari sekedar gembel menjadi seorang punggawa istana. Kedudukan yang sebelumnya mimpi pun tak sanggup...”
”Tapi Kakang...bukankah Musa juga berhutang nyawa kepada Fir’aun? Namun itu tak menghalanginya untuk memerangi Fir’aun saat dia menolak menerima Tuhan.”
Proses merasionalisasikan Basukarna oleh Arjuna rupanya tidak mempan. Basukarna tetap bersikeras terhadap apa yang ia yakini. Dan ia memutuskan untuk tetap berperang melawan Amarta yang berarti juga melawan adik kandungnya sendiri. Tapi sesungguhnya, keras kepala Basukarna tidak seperti apa yang dibayangkan oleh Arjuna. Basukarna sebenarnya sudah sadar dengan apa yang diucap oleh Arjuna. Namun, demi harga diri sebagai seorang panglima perang, ia tetap bersikeras untuk melawan Amarta. Basukarna memiliki rencana sendiri yang telah ia siapkan dalam benak hatinya jika nanti menghadapi Arjuna di medan laga.
Di padang Kurusetra, tempat medan pertempuran berlangsung, Arjuna tak mampu melawan kakak kandungnya tersebut. Ia malah menyuruh Basukarna untuk membunuh dirinya. Ia tak sanggup. Ikatan saudara sekandung terlalu kuat tertanam dalam hati Arjuna. Tapi, sepertinya Basukarna telah mengetahui sifat adiknya. Ia memberikan kata-kata yang sanggup membuat hati Arjuna luluh oleh kebingungan dan memaksa emosi Arjuna meluap. Basukarna menghina Arjuna di tengah medan pertempuran sehingga membuat Arjuna terbakar. Basukarna memaksa Arjuna dengan kata-kata yang bernada menghina agar Arjuna mau bertarung. Dan saat emosi Arjuna meluap sehingga menyerang Basukarna, Basukarna hanya diam tak melawan. Ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya salah. Namun demi harga diri, ia korbankan nyawanya agar negeri Amarta yang membawa nilai-nilai kebenaran tidak terlalu banyak jatuh korban. Balas budinya kepada Duryudana adalah dengan tetap berdiri mendukungnya dan pengorbanannya untuk tetap meloloskan kebenaran agar tetap tegak, ia persembahkan nyawanya di tangan adik kandungnya sendiri, panglima perang yang mengusung nilai-nilai kebenaran.
Berikut kutipannya:
Arjuna mementang gandewanya dengan rasa menyerpih-nyerpih. Di ujung lain Basukarna mematung dengan tatap sayu membiru.
.................................
”Aku tak mampu Kakang....”
Nun jauh diujung, Basukarna tertawa membahana. ”Haa...haa.... inikah senapati Amarta? Lelaki banci yang membawa duka cita dalam menuntaskan darma setia? O, Arjuna...dimana perwiramu?”
”Bunuh saja aku Kakang. Labih mudah rasanya,”
................................
”Bunuh saja aku, Kakang...”
................................ ”O, sebaiknya kau memakai kebaya saja, Arjuna. Malu rasanya Kakang berhadapan dengan lelaki banci hari ini. Tak kan kulupakan hinaan jika membunuhmu tanpa perlawanan.”
Hinaan yang dilontarkan oleh Basukarna mampu memancing Arjuna untuk berperang.
Gerigis amarah itu. Tiba-tiba Arjuna mementang gandewa, seribu luka menguasai dirinya. Peperangan harus berakhir, atau semakin banyak rakyat tak berdosa menumpuk jasad di Kurusetra. Batang panah melaju, membelah deru angin yang mengesiur perlahan.
Basukarna tersenyum wibawa. Ditantangnya mata runcing itu dengan dadanya yang membusung.......
..............................
”Kau bisa melakukannya, Dinda.....”. Sungging senyumnya dalam rengkuhan keikhlasan. ”Segalanya memang tak terpilih”
Arjuna memburu dengan lelehan air mata. ”Kakang.......”
Ia menubruk tubuh yang gontai itu. Menghujaninya dengan air mata yang membanjir.
”Kenapa kau diam saja, Kakang.....?
Bagai memakan buah simalakama. Pepatah itu yang patut ditujukan kepada Arjuna. Namun, rupanya pepetah itu lebih lagi patut ditujukan oleh Basukarna. Pengorbanannya, tak seorang pun tahu bahwa dia memilih membela kebenaran dan menggadaikan nyawanya ditangan adiknya sendiri, Arjuna.

Kamis, 12 Februari 2009

GERAK PERJALANAN ESTETIK CERPEN INDONESIA

Maman S. Mahayana

Cerita pendek Indonesia dalam satu dasawarsa ini, agaknya makin mengukuhkan jati dirinya. Ia tak hanya muncul seperti gelombang yang secara kuantitatif melampaui penerbitan novel dan drama, tetapi juga seperti menempatkan dalam mainstream-nya sendiri. Maka, tidak dapat lain, pembicaraan mengenai cerpen Indonesia, mesti dilekatkan pada dirinya an sich dan bukan sebagai tempelan atau sekadar pelengkap. Kini cerpen Indonesia menunjukkan jalan hidupnya yang lebih mandiri. Kajian kritis terhadapnya dan pembicaraan cerpen dalam institusi (pendidikan) sastra, oleh karena itu, mesti berada dalam kotak tersendiri.

***

Dalam konteks membangun kritik, masalah estetika merupakan salah satu wilayah garapan yang terpusat pada teks. Wilayah lainnya menyangkut pembaca, penerbit, dan pengarang. Dalam wilayah yang disebut terakhir inilah, kita berhadapan dengan berbagai hal yang menyangkut diri pengarang, termasuk di dalamnya persoalan tokoh dan ketokohan seseorang. Jadi, ketika kita berbicara mengenai seorang Sutardji Calzoum Bachri atau siapa pun, kita akan menelusuri kegelisahan kulturalnya, pencarian dan pencapaian estetik dalam ragam sastra yang dimasukinya, tempatnya yang pas dalam sejarah sastra, dan berbagai hal yang melingkarinya. Gagasan dari manakah yang menyatakan pembicaraan kepengarangan (ketokohan) seseorang dalam konteks membangun kritik (criticism) dianggap tak relevan?

Berdasarkan pemahaman itu, perbincangan mengenai kecerpenan siapa pun yang muncul belakangan ini justru menjadi sangat signifikan. Ia tak sekadar relevan dengan kondisi objektif lahirnya sejumlah nama dengan kegelisahan dan style yang masing-masing terasa begitu khas, tetapi juga lantaran sampai sejauh ini, cerpen Indonesia mutakhir terkesan tak punya hubungan dengan gerakan cerpen sebelumnya. Ia seperti tercerabut dari masa lalunya. Bagaimana sesungguhnya peta perjalanan cerpen kita? Belum lagi yang menyangkut gerakan estetiknya yang juga belum banyak diangkat sebagai sebuah wacana perdebatan. Jadi, diskusi soal kecerpenan itu, penting untuk memetakan perjalanan cerpen Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari kesusastraan dan wilayah kebudayaan Indonesia secara keseluruhan.

Bagaimanapun juga, pembicaraan tokoh dan ketokohan, di dalamnya termasuk karya-karya (berikut soal estetik) yang telah dihasilkannya. Bagaimana mungkin kita membicarakan kepengarangan seorang yang tak berkarya? Jika ada perbincangan kritis atas ketokohan seseorang, konteksnya mengacu pada karya yang dihasilkannya, dan bukan pada peranan sosial yang tak berhubungan dengan kepengarangannya. Sebaliknya, pembicaraan ini menjadi tak berdasar jika secara gegabah, kita memejamkan mata terhadap dinamika cerpen Indonesia mutakhir dan menafikan semangat estetiknya. Sekadar berdiri mematung lantaran terpukau oleh estetika masa lalu, tentu saja tidak sehat bagi sebuah perkembangan. Dengan begitu, kisah sukses capaian estetik masa lalu, hendaknya tidak dalam kerangka bernostalgia, tetapi menempatkannya dalam konteks perjalanan sejarah.

Begitulah, untuk menatap perspektif dan berbagai kemungkinan capaian estetik cerpen Indonesia kontemporer ini, tidak dapat lain, kita mesti mencari alat ukur dan bahan pembandingnya. Dalam hubungan itu, maka perbincangan cerpen Indonesia yang muncul dalam satu dasawarsa terakhir ini tidak berarti serta-merta mengubur capaian estetik yang telah ditorehkan sebelumnya. Dengan membenamkan itu –apalagi dengan mematikannya seperti yang dilansir Hudan Hidayat—kita akan kehilangan alat komparasi. Di samping itu, mengingat adanya beberapa kesesatan dalam menempatkan kelahiran dan perjalanan cerpen Indonesia, maka perbincangan ini menjadi sangat relevan, penting, dan mendesak.

***

“Dalam catatan sejarah kesusastraan Indonesia, cerpen merupakan genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak terpenting sejarah penulisan cerpen di Indonesia dimulai oleh cerita-cerita M. Kasim (bersama Suman Hs.) pada awal tahun 1910-an, yang memperkenalkan bentuk tulisan berupa cerita-cerita yang pendek dan lucu. Sejak saat itulah, di Indonesia mulai dikenal bentuk penulisan cerita pendek (cerpen).” Demikian salah satu bagian dari keterangan yang terdapat dalam buku Horison Sastra Indonesia 2: Kitab Cerita Pendek (2002: xiii—xiv).

Pandangan ini sejalan dengan gagasan yang dilontarkan Ajip Rosidi (Tjerita Pendek Indonesia, 1959) yang juga menempatkan Muhammad Kasim dan Soeman Hs sebagai perintis cerpen Indonesia. Dengan bersumberkan majalah Pandji Poestaka (1923) yang banyak memuat cerita-cerita lucu M. Kasim –belakangan diterbitkan sebagai kumpulan cerita lucu, Teman Duduk, 1936—Ajip menelusuri jejaknya dari tradisi sastra lisan penglipur lara dengan tokoh-tokoh si Kabayan, Lebai Malang, dan Jaka Dolog.

Itulah kesesatan serius dalam menempatkan kelahiran cerpen Indonesia. Bagaimana mungkin karya-karya M. Kasim dalam Pandji Poestaka mendahului cerita-cerita sejenis yang dimuat majalah Sri Poestaka (1918), dan majalah atau suratkabar yang terbit jauh sebelum itu, seperti Biang-lala (Batavia, 1868; dwimingguan), Sahabat Baik (Betawi, 1891; tidak teratur), Pewarta Prijaji (Semarang, 1900; bulanan), Soenda Berita (Cianjur, 1903; mingguan), Bintang Hindia (Bandung, 1903; dwimingguan), Medan Priyayi (Batavia, 1907; harian), Poetri Hindia (Betawi, 1908; dwimingguan), Bok-Tok (Surabaya, 1913; mingguan). Majalah Sahabat Baik, bahkan secara jelas mencantumkan subjudulnya seperti ini: “Hikayat, tjerita, dongeng, sjair, pantoen, dan lain-lain daripada itu.”

Meskipun para penulis cerita ringan dan lucu itu, sebagiannya masih menggunakan nama samaran, setidak-tidaknya cerpen Kanaiki “Trang Boelan Terkenang”, Delima “Djiwa Manis Haloes Tipoenja”, dan Rineff (Rustam Effendi) “Djoerang jang tiada dapat di djembatani” masih dapat kita lacak nama aslinya melalui karya lain atau tanggapan terhadap karya-karya itu. Pasalnya, dalam karya berikutnya atau dari tanggapan pembaca, pengarang sering kali mencantumkan nama aslinya jika ia menyinggung karya sebelumnya atau jika ia menjawab tanggapan pembaca itu.

Kesesatan lain terjadi lantaran hampir semua pengamat sastra Indonesia menafikan keberadaan suratkabar dan majalah. Padahal media massa ini justru menjadi bagian penting dalam sistem reproduksi karya sastra (cerpen, puisi, dan cerita bersambung). Sejak awalnya (akhir abad ke-19) sampai zaman Jepang, hampir tidak ada cerpen yang dipublikasikan langsung dalam bentuk buku. Ia muncul lewat penerbitan media massa. Dalam hal ini, cerpen tidak dapat dipisahkan dari majalah dan suratkabar. Dari sanalah, cerpen Indonesia lahir dan berkembang, dan memperoleh bentuk yang lebih jelas pada tahun 1930-an.

Pada zaman Jepang, cerpen menjadi makin populer ketika pemerintah pendudukan Jepang banyak menyelenggarakan lomba penulisan cerpen. Dari sejumlah cerpenis waktu itu, A.S. Hadisiswoyo, Muhammad Dimyati, Rosihan Anwar pernah memenangi lomba penulisan cerpen. Beberapa nama lain yang karyanya banyak muncul di media massa pada masa itu, antara lain, Sanusi Pane, Armijn Pane, dan D. Djokokoesoemo.

***

Pada tahun 1950-an, cerpen Indonesia makin mapan keberadaannya. Derasnya pengaruh asing, munculnya semangat kedaerahan, pudarnya dominasi pengarang Sumatra, dan terbitnya berbagai media massa –termasuk majalah Prosa dan Tjerita Pendek yang dikelola Ajip Rosidi– memberi kesempatan munculnya cerpenis dari pelosok tanah air. Bersamaan dengan itu, adanya ruang kebebasan untuk berekspresi, mendorong keberanian melakukan berbagai eksperimen.

Secara struktural, inovasi yang dilakukan lebih banyak menyangkut tema cerita dan tampak masih ada keterikatan pada konvensi. Dengan begitu, dilihat dari sudut gagasan yang ditawarkan, gerakan estetiknya lebih menekankan pada aspek tema. Riyono Pratikto (Api dan Si Rangka), misalnya menampilkan kisah-kisah dunia gaib yang diangkat dari cerita-cerita rakyat; Rendra (“Mungkin Parmo Kemasukan Setan”) menggugat disiplin Katolik, Ramadhan KH (“Antara Kepercayaan”) mengecam kepicikan penganut tradisional Islam dan Kristen; Pramoedya Ananta Toer (Subuh) mengangkat kepedihan lahir-batin akibat perang, dan Navis (“Robohnya Surau Kami”) meledek kepercayaan taklid. Sementara itu, Iwan Simatupang (“Lebih Hitam dari Hitam”), Sitor Situmorang (“Salju di Paris”) dan P. Sengojo (Sengkuni) mengisahkan kegelisahan dan kekacauan pikiran yang bertumpang-tindih dengan tindakan.

Jika sebelumnya, agama dan kepercayaan ditempatkan begitu suci dan terhormat, dalam sejumlah cerpen tahun 1950-an itu, agama tiba-tiba menjadi alat permainan. Eksplorasi pada kekacauan pikiran dan kegelisahan psikologis digunakan sebagai sarana menyampaikan eksperimen. Akibatnya, pikiran dan perasaan si tokoh tampak liar, tak terduga, dan aneh.

Memasuki masa Orde Baru dan terus menggelinding sampai tahun 1970-an, kondisi itu seperti berulang kembali, bahkan jauh lebih luas pengaruhnya. Putu Wijaya, Danarto, Kuntowijoyo –sekadar menyebut tiga nama—menjadi sangat menonjol dalam deretan nama cerpenis waktu itu. Teror Putu Wijaya, nafas sufistik Danarto–Kuntowijoyo seolah-olah begitu memukau dalam kemasan dunia jungkir-balik. Realitas cerpen seperti hendak dikembalikan lagi pada hakikatnya: cerita. Maka, logika formal tidak berlaku di sana. Dibanding generasi sebelumnya, cerpenis tahun 1970-an telah berhasil membangun estetikanya justru sejak awal kemunculannya. Dengan estetikanya itu, mereka tetap bertahan sampai kini. Jadi selain nafasnya panjang, juga estetika yang ditawarkannya mengakar kokoh hingga dapat bertahan lebih dari tiga dasawarsa. Kita akan tetap menemukan style dan greget (estetika) yang tak jauh berbeda jika kita membandingkan cerpen Putu Wijaya (“Ini Sebuah Surat” 1970 atau Bom, 1978) atau Danarto (“Godlob” atau “Armageddon”) dengan cerpen terbarunya (Putu Wijaya, Tidak, 1999; Danarto, Setangkai Melati di Sayap Jibril, 2001).

Kuatnya bangunan estetik cerpenis tahun 1970-an itu, memungkinkan mereka dapat bernafas panjang dan tetap bertahan di tengah bermunculannya generasi berikutnya. Kekuatan bangunan estetik ini –harus diakui— justru tak begitu tampak pada cerpenis yang oleh Korrie Layun Rampan dimasukkan ke dalam kotak Angkatan 2000. Sebelum itu, Seno Gumira Ajidarma –lewat Penembak Misterius (1993) dan Saksi Mata (1994)—memang berhasil menawarkan style jurnalistik dalam cerpen-cerpennya. Pengaruhnya juga tampak pada sejumlah cerpenis berikutnya. Tetapi beberapa cerpen terakhir Seno mulai terasa tidak sekuat karya awalnya. Apakah estetika yang dibangun Seno dapat bertahan sampai entah kapan?

Pertanyaan serupa sesungguhnya dapat kita ajukan kepada cerpenis mutakhir kita. Peluang ke arah sana tentu saja masih terbuka. Kurnia JR, lewat Kereta Berangkat Senja—awalnya sungguh menjanjikan. Tetapi kini keberadaannya entah di mana. Yanusa Nugroho niscaya akan dapat bertahan jika ia konsisten dengan dunia Jawa-nya. Lalu, bagaimana pula dengan Joni Ariadinata, Taufik Ikram Jamil, Oka Rusmini, Abidah el Khalieqy, Agus Noor, Hudan Hidayat, Gus tf Sakai, Herlino Soleman dan deretan nama lain yang bertaburan?

Sebagai cerpenis, agaknya mereka akan terus bertahan. Tetapi, berdasarkan karya yang telah mereka hasilkan, sangat mungkin banyak pula yang berguguran. Jamil, Rusmini, Sakai, jika konsisten mengeksplorasi kultur etnik, peluang bertahan tetap terbuka. Bahkan, sangat mungkin akan menghasilkan monumen jika konsistensi itu dipelihara terus. Masalah konsistensi ini juga tentu saja berlaku bagi Khalieqy –lewat pendalaman kisah-kisah sufi—jika ia ingin tetap bertahan. Sementara Noor dan terutama, Hidayat kebertahanannya bergantung pada kemampuannya menjaga kegelisahan psikis. Dan itu menuntut keduanya membongkar buku-buku Sigmund Freud, Carl G. Jung, dan teori psikologi modern. Tanpa itu, keduanya –barangkali—sekadar bertahan untuk tidak masuk degradasi.

Bahaya besar justru dihadapi Joni Ariadinata. Penemuan estetik yang ditawarkannya dalam Kali Mati (1999), ternyata kurang dapat dipelihara dengan baik dalam beberapa cerpennya yang kemudian (Kastil Angin Menderu, 2000; Air Kaldera, 2000). Padahal, di antara nama-nama tadi, Joni telah sangat meyakinkan membuat inovasi; menoreh bangunan estetik –yang mengingatkan kita pada salah satu klub sepakbola Italia, Chievo Verona. Jika tak berhati-hati, meski tak mengalami degradasi, paling banter ia bertahan di papan tengah.

***

Mesti diakui, sejumlah besar cerpenis Indonesia mutakhir, belum teruji oleh waktu. Mencermati karya-karya yang dihasilkannya, memang tampak seperti sebuah gerakan yang mengusung sebuah mainstream-nya sendiri. Banyak hal yang sungguh menjanjikan. Tetapi, janji tetap janji. Ia harus dibuktikan bukan janji kosong, melainkan sebuah monumen! Nah! Hanya waktu jualah yang kelak menentukan.

(Maman S. Mahayana, Pengajar FSUI, Depok). [sumber: mahayana-mahadewa]