Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2009

Rupanya Dia.....




Saat-saat jauh nan gelap tanpa tahu apa itu barat dan dimana itu merah, secercah senyum simpul yang melegakan berhembus.
Dalam sebuah ruang yang penuh dengan alat-alat, aku melihatnya sebagai seorang pengajar yang ramah dan memberikan pengetahuan baru bagaimana cara yang baik dalam mendengarkan.
Keramahannya, sebening kacamata yang ia pakai. Senyumnya, semanis ucapannya. Gayanya, sebeda yang pernah ada.
Dan.....
lama aku terdiam tak bersungut dalam gemebyar kehidupan para mahasiswa, dalam pencarian memahami apa itu makna dan apa itu renungan.
Kini kembali aku bertemu dengannya
dalam untaian kata-kata "PROSE".
tak kutahu siapa itu Anton Chekhov
tak ku mengerti apa itu "ROSE FOR EMILY"
tak ku dengar tentang "WASHINGTON IRVING"

Rupanya dia....
yang memberiku jalan dimana aku harus lebih banyak membaca berbagai jenis untaian kata hingga aku mampu menulis seperti apa yang mereka tulis

Sabtu, 02 Mei 2009

SADAR

Ego, ego, ego
Ah
Ku lurus maumu
Tak harap paru-paru jadi busuk
Tapi mau kata apa?
Kala candu tlah jadi satu?

Dan kita tetap bersetubuh dengan ego
apakah hanya dengan racikan cengkih
kita harus bermerah padam?

Tak terhitung orang seperti ku
bukan 20, 1000 kau bisa
tapi rembulan cuma satu
dan kini tetap satu
tak kan ada dua

Gemintang langit temani sabit
luluh lantak karena sinarnya

Selasa, 24 Februari 2009

UNTUK TEMANKU YANG TERTINDAS

Oh, kamu yang lahir di bangsal kesengsaraan, yang dipelihara oleh sukma ketekunan, yang bermain seperti anak-anak dalam jeruji kaum tiran, yang memakan Sagu keringmu dengan helaan nafas dan minum air keruhmu bercampur air mata kepahitan.
Oh, Sang Cerdas yang diperintah oleh sistem terputar, yang berbelit-belit bagai si Kakek yang sembelit sakit perut karena menelan Kasbi mentah, meninggalkan anak-istrinya untuk memasuki arena pendidikan demi sebuah ambisi yang mereka sebut dengan kebutuhan.
Oh, penyair yang terlunta bagai pengemis di sela gedung-gedung mewah, tak dikenal diantara orang-orang sekitarnya, yang hanya ingin hidup sebagai sampah masyarakat dan musuh penguasa, yang hanya menginginkan kertas dan tinta, untuk menumpahkan segala penderitaan saudaranya.
Dan kalian, wanita malang, yang diberi Tuhan keindahan di setiap lekuk tubuhmu. Anak-anak muda yang tak beriman akan melihat kecantikanmu dan membuntutimu, memperdayaimu dan menebus penderitaanmu dengan harta yang diculik dari saku orang tua mereka. Bila kalian tunduk kepadanya, kalian seperti mangsa yang menggelepar dalam cakar kerendahan dan kenistaan yang menyedihkan. Dan kalian para wanita yang tunduk pada jabatan dan rakus kekuasaan. Apakah pengorbananmu mendayung perahu demi mencari sesuap ilmu hanya untuk memamerkan ngilu yang selama ini semakin menderu?
Dan kalian, para sahabat-sahabatku yang rendah hati dan senang mengucilkan diri, yang rela berkorban demi mereka yang masih tertutup nuraninya, yang terbungkam mulutnya, yang tertunduk ketika mendengar suara para penguasa. Ancaman tidak akan menyurutkan tiap helai semangatmu. Kamu bersedih, namun kesedihanmu adalah buah kerakusan para penguasa, ketidakadilan Sang Cerdas yang menimbang dengan mengotori timbangan, buah tirani keegoisan akan kesempurnaan dengan alasan lahir lebih dulu dari kalian.
Jangan pernah putus asa, karena diluar ketidakadilan dunia ini, di luar materi, di balik selimut kabut, di luar segala sesuatu masih ada sebuah kekuatan yang Maha Adil, Maha Santun, Maha Cinta.
Kalian bagaikan bunga-bunga yang tumbuh dalam bayang-bayang hitam, angin semilir akan membawa benihmu menuju matahari tempat ia menempati sebuah kehidupan yang di impikan. Kalian bunga-bunga yang mencoba menaburkan wewangian di sekeliling bangkai busuk. Dan saat ini, musim dingin baru saja tiba. Masih ada musim semi yang akan menumbuhkan tunasmu dan menghiasimu dengan dedaunan ranum dan segar.
Kebenaran, akan mencabik selubung airmata yang dulu menyembunyikan senyum manismu.
Saudara-saudaraku, aku akan datang dan terus menghantui mereka, membantu kalian dengan lembaran yang dianggap bertorehkan hasutan. Menghinakan jiwa penindas-penindasmu, agar tercuci dengan sendirinya karena akal mereka yang akan kembali karena taburan air yang jernih.

Jumat, 09 Januari 2009

Puisi

puisi adalah luapan deburan ombak dari jiwa yang bergelora, menyublimkan rasa, memadatkan kata tanpa melalaikan warna dan buih ombak tersebut.

puisi adalah mantra dari para dewa yang senantiasa terus mendengungkan akan bait-bait suci dan mengungkap makna serta hakikat kehidupan.

puisi adalah barisan kata sakral yang di hantarkan secara ekspresif yang membutuhkan kekuatan batin untuk memaknainya.

puisi bukanlah ocehan para politikus yang mengumbar janji tiada henti, penuh tipu dan muslihat.

puisi bukanlah igauan para borjuis yang terus berpikir tentang keuntungan emas dan uang hingga menimbun tubuh tersebut sampai liang lahat. puisi adalah pesan dari orang-orang yang memahami seluk-beluknya jagat raya.

puisi adalah rasa yang terlukis melalui kata pilihan, memberikan efek mantra dan menyampaikan pesan istimewa yang mengungkapkan indahnya tulip dan mawar melalui t.u.l.i.p.d.a.n.m.a.w.a.r

Jumat, 02 Januari 2009

Cinta Itu Nafas

Seperti rembulan tidur di garis cakrawala, kerlip bintang saling silang di sela awan. Pantulannya membiru di bola matamu, meniupkan getaran cinta di langit hatiku.

Duhai yang manja dan selalu ku puja, wahai yang ku puja dan pasti ku damba !Sebab cinta aku ada, untuk cinta aku ada, untuk cinta aku terdampar di tanah kuburan. Irama langkahmu yang binal tak seperti singa liar melainkan langkah wibawa sang ratu yang menuruni tangga-tangga kerajaan. Aku ingin menjadi budakmu. Aku rela kau pajang sebagai lukisan, meskipun coretan-coretan rambut yang menari di dahiku kau pangkas dengan gemulai jemarimu.

Bukan sebuah gugatan akan murninya cintamu, tapi, haruskah aku yang terus mengalah ? Aku tak sesumbar bahwa kau egois karena jiwamu terbungkus sosialis. Ini bukan sajak keluhan, juga bukan soal-soal puisi yang harus kau jawab. Ini mulutku yang mengeluarkan bau busuk jika kau mampu menciumnya.

Aku mengalah karena memang aku kalah. Tapi aku mohon, berikanlah cahayamu Rembulanku...! karena di saat siang hari aku tak mau melihat matahari-matahari itu menari di atas pelupuk mataku. Aku tak bisa membiarkan gelombang cintaku menyapu sejangkung mendung, karena aku tak mau tenggelam dalam badai yang mengamuk linglung. Inilah aku yang hidup bernafaskan cinta. Berpisah denganmu, berarti aku berhenti bernafas.

Pertemuan

           Menginjak rumput
           Memanggil yang lama ‘tlah luput
           Semakin dekat menyalami beberapa semut
           Senyummu kecut
           Candamu tak ciut
           Pesonamu tak jua surut
           Jemari lembut
           Tetap menutup rambut
           Melepas kangen ?                                                                                                                                          Membalas dengan sedikit mesem

Dasar perempuan

Membuatku semakin edan.

                                                                                                                            Tanah Khairun, 2008

Hanya Sekedar Obrolan

Mungkin hanya sekedar obrolan
Duduk dan berteriak lantang
Untuk membela golongan 
Bahkan demi membeli kutang
 
Mungkin hanya sekedar obrolan
Duduk-duduk di tikungan jalan
Menontonkan kaki panjang
Menawarkan isi dalam kutang

Mungkin hanya sekedar obrolan
Melingkar saling bertatapan
Tak bosan jua mengangkat tangan
Berkomat-kamit meminta hujan
                                                                                                                       Tanah Khairun, 2008